/ Home / Hukum /
Perkosaan Terburuk di Dunia Terjadi di Kongo

" "
Selasa, 9 Februari 2010 | 10:59 WIB
Laporan :

Lebih dari 8.000 perempuan di Republik Demokratik Kongo (DRC) mengalami perkosaan sepanjang tahun 2009, yang ditengarai dilakukan oleh faksi-faksi yang berperang, baik tentara pemberontak maupun tentara pemerintah.

Menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Dana Populasi (UNFPA), Senin, tentara pemberontak suku Hutu (FDLR) diyakini sebagai pihak yang paling banyak melakukan pemerkosaan. "(Tapi) anggota-anggota tentara nasional (FARDC) juga melakukan kekerasan seksual di provinsi Kivu Utara dan Selatan," kata pernyataan UNFPA.

Badan-badan kemanusiaan memang memuji upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah DRC untuk mengakhiri praktik perkosaan oleh tentaranya.

Namun UNFPA melihat Pemerintah Kongo masih perlu berbuat banyak dalam memastikan jangan sampai mereka yang bersalah lolos dari hukuman. Republik Demokratik Kongo (DRC) --untuk membedakan dengan negara tetangganya Republik Kongo, merupakan negara yang telah bertahun-tahun dilanda perang saudara.

Dalam lima tahun terakhir, konflik yang terus bergejolak di negara bekas jajahan Belgia tersebut, melibatkan tentara Pemerintah DRC --yang didukung Zimbabwe, Angola dan Namibia-- dengan milisi pemberontak --yang didukung Rwanda dan Uganda.

Kendati kesepakatan damai dan pembentukan sebuah pemerintahan transisi telah ditandatangani pada tahun 2003, pertikaian terus berlangsung, terutama di wilayah bagian timur. Di wilayah itu, perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan kerap terjadi dan disebut-sebut merupakan yang terburuk di dunia.

Konflik berdarah selama lima tahun terakhir dilaporkan telah menewaskan jutaan warga, termasuk mereka yang terkena dampak perang hingga mengalami kelaparan dan didera berbagai penyakit.

Melalui mandat Dewan Keamanan tahun 1999, PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian untuk memantau pelaksanaan perjanjian Lusaka tahun 1999, yakni kesepakatan gencatan senjata antara DRC dengan kelima negara di kawasan Afrika tengah yaitu Zimbabwe, Angola dan Namibia. Pasukan penjaga perdamaian PBB di DRC (MONUC), saat ini berkekuatan sekitar 5.500 tentara dan 500 pemantau militer dari puluhan negara, termasuk Indonesia. (kc/san)

KOMENTAR ANDA

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

saya ingin Tribun terus dan menggalakkan berita-berita yang pedas dan cerdas, tidak seperti koran-koran di daerah, beritanya telah dikounter oleh pemda. jangan mau anda dibeli!

Posted by: hendrizal | Selasa, 9 Februari 2010 | 12:22 WIB

komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

 

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

saya ingin Tribun terus dan menggalakkan berita-berita yang pedas dan cerdas, tidak seperti koran-koran di daerah, beritanya telah dikounter oleh pemda. jangan mau anda dibeli!

Posted by: hendrizal | Selasa, 9 Februari 2010 | 12:22 WIB

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 IT tribunpekanbaru.com (Dinoz). All rights reserved