"
Dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang sukses melakukan bedah batang otak, Dr Eka Julianta Wahjoepramono SpBS(kanan), dalam acara bedah buku berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia. "
Jumat, 26 Februari 2010 | 21:06 WIB
Laporan :
Bayar Rp 2 Juta Agar Lolos Kedokteran
Dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang sukses melakukan bedah batang otak, Dr Eka Julianta Wahjoepramono SpBS, menuturkan getir-pahit pengalamannya dalam buku berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia. Buku ini memuat kisah-kisah heroik Dr Eka, termasuk mengoperasi para penderita gangguan pada otak yang sulit dioperasi dan melambungkanya ke posisi dokter kaliber internasional.
Berikut kisah dokter yang bekerja di Rumah Sakit Siloam Karawaci ini.LAHIR di Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 1958, dengan nama Tjioe Tjay Kian. Kakek-neneknya berasal dari Provinsi Fujian, China bagian Selatan.Ketika pemerintah mewajibkan suku Tionghoa di Indonesia memakai nama berbau Indonesia, tahun 1965, nama ini diubah menjadi Eka Julianta Wahjoepramono.
Tidak mudah bagi Eka mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Setamat SMA, dia mengikuti seleksi di sejumlah perguruan tinggi negeri. Antara lain Universitas Gadjahmada Yogyakarta dan Universitas Diponegoro Semarang.Bukan karena nilainya rendah, melainkan perlakuan diskriminasi yang membatasai kuota suku Tionghoa kuliah di universitas besar.
Dia gagal masuk UGM, lalu mencoba peruntungan ke Undip. Dia menyaksikan hasil ujian yang menyatakan lulus. Namun aturannya sama dengan di UGM, mahasiswa suku Tionghoa dibatasi, serta permintaan uang sumbangan.Eka yang berasal dari keluarga tak mampu sempat keder. Namun dia menemui pakdenya dan akhirnya memberi uang sumbangan Rp 2 juta, tahun 1977, uang sejumlah itu sudah dapat membeli mobil baru.
Setelah membayar uang sumbangan itulah, Eka mendapat tiket menjadi dokter. Eka kuliah selama enam tahun di Undip. Selama kuliah, dia aktif dalam kegitan kampus. Ia pernah menjabat ketua kelas, jabatan yang strategis menunjang kuliah maupun mendekati mahasiswa baru. Jabatan itu pula yang dimanfaatkan Eka, mendekati seorang mahasiswi baru, Hannah Kiati Damar, putri Dr Gan Haoy Kiong, dokter ahli bedah yang sangat terkenal di Semarang.
Keduanya berjodoh dan berumah tangga dan sama-sama dokter, jadilah rumah tangga dokter; pasangan Eka dengan Hannah. Pasangan dokter yang bekerja di RS Siloam, Karawaci, ini dikaruniai tiga anak.Lulus dari Fakultas Kedokteran Undip sebagai dokter umum tahun 1984, Eka ingin melanjut agar dokter spesialis, dokter bedah saraf yang sudah sejak lama dicita-citakan.
Saat itu ada aturan, untuk bisa menjadi dokter spesialis, harus terlebih dulu tugas di Puskesmas sebagai dokter pegawai negeri sipil.Agar cita-cita cepat terwujud, dia pun mengatur siasat.Ia sengaja mencari tempat terpencil yang masih dianggap hutan belantara, Kalimantan Tengah. Ia pun ditempatkan di Pendahara, Kecamatan Tewang, Sangalang Garing, Katingan, antara Palangkaraya dan Sampit.
Panen Pujian
Dokter Eka adalah satu-satunya dokter yang mendapat rekor dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Ia tercatat sebagai dokter pertama dan satu-satunya di Indonesia yang berhasil membedah batang otak pasien.Sukses ini juga yang melambungkan namanya ke kancah internasional, dan disegani dokter-dokter bedah saraf dunia.
"Saat ini juga, Dokter Eka saya nyatakan dicatatkan di rekor Muri, karena prestasinya berhasil membedah batang otak," ujar pendiri Muri Jaya Suprana saat peluncuran buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia di Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Kamis.
Menurut Jaya, yang juga pemilik perusahaan Jamu Jago Indonesia, prestasi Eka luar biasa. "Sepengetahuan saya, batang otak tidak boleh diutak-atik. Tabu. Saking tabunya, batang otak disebut urusan Tuhan. kalau Dokter Eka menjadi bisa mengutak-atik batang otak, berarti Anda ini sudah bagian dari Tuhan," kata Jaya, yang dikenal sebagai pemusik dan suka melawak.
Penulis Buki Tinta Emas di Kanvas Dunia, Pitan Daslani, mengatakan, sudah mengecek se-Asia, sejauh ini, baru Eka yang pertama dan berhasil membedah batang otak.Prestasi membedah otak berawal 20 Februari 2001. Ketika itu, Ardiansyah, warga Merak, Banten, datang dalam kondisi kritis. Buruh nelayan berusia sekitar 20 tahun itu datang dalam kondisi saraf-saraf lumpuh, kaki dan tangan lumpuh, mata melotot, dan napas tersengal-sengal.Setelah didiagnosa, Ardiansyah ini terkena tumor kavernoma yang telah pecah di pons atau batang otak.
"Saat itu, dunia termasuk dokter bedah saraf pun belum berani mengutak-atik batang otak. Karena kalau salah sedikit, pasti mati atau lumpuh. Tapi karena pilihannya mati atau hidup, saya beranikan diri membedah batang otak Pak Ardiansyah ini," ujar Eka sambil menunjuk Ardiansyah yang berdiri di sampingnya.
Ardiansyah seorang yatim piatu. Saat itu dia datang diantar seorang kakaknya. Dalam peluncuran buku kemarin, ia juga memberi kesaksian."Saya sudah pasrah, karena sakitnya. Alhamdulillah, dokter Eka ini dapat merawat. Saya ucapkan terima kasih," ujar Ardiansyah. Selain Ardiansyah, ada lagi pasien miskin, Jumiati. Mahmud, suaminya, kepala sekolah swasta di Cengkareng, Jakarta Barat. Untuk memenuhi kebutuhan keuangan keluarga, Mahmud bekerja sambilan sebagai pemulung sampah.
Operasi Ardiansyah dan Jumiati dilayani Dr Eka secara cuma-cuma di RS Siloam.Bedah buku dipandu presenter Kick Andi, Andi F Noya, dengan pembicara Eka, Jaya Suprana, dan Pitan. Sejumlah pasien yang berhasil diselamatkan hadir dan memberi kesaksian, keluarga mantan pasien yang gagal operasi dan meninggal pun tetap memuji karya dokter Eka.
Pasien lainnya, anggota TNI Angkatan Udara Kolonel Budi Laksono, mengatakan kesalutannya akan keberhasilan Dr Eka memulihkan kondisi kesehatannya dari serangan stroke."Saya sudah 10 tahun menderita stroke. Dulu saya pilot TNI AU untuk pesawat Falcon-15 (F-15) dan F-16, dan Hercules. Walau tidak bisa lagi bermain-main di udara, saya bersyukur karena bisa karena bisa aktif di TNI AU sebai staf," ujar Budi.
Pujian lainnya dikemukakan Ny Lana Sarwono, janda Sarwono gagal saat mengalami operasi kedua kali. "Semula, saya mengalami pergulatan batin, mengapa Dokter Eka gagal menyelamatkan suami saya. Tetapi akhirnya saya dapat menerima, inilah takdir dari Tuhan dan saya mengikhlaskan suami saya pergi," kata Lana, sebelum menerima buku biografi Dr Eka berjudul Tinta Emas di Kanvas Dunia.
Lana melanjutkan, di balik kegagalan operasi otak suaminya, masih ada hikmah. Lana menandaskan, "Saya berharap kiranya Dokter Eka dapat menyelamatkan ebih banyak, ratusan bahkan ribuan orang penderita otak."(Persda Network/amb)
saya sangat kagum atas keberhasilan bapak,semoga bapak tetap dalam lindungan yang maha kuasa.amin
saya mau tanya pak???
apa kunci bapak untuk mencapai kesuksesan yang telah bapak raih sekarang,,,
mohon konfirnya ya pak.
wassallam...
saya sangat kagum atas keberhasilan bapak,semoga bapak tetap dalam lindungan yang maha kuasa.amin
saya mau tanya pak???
apa kunci bapak untuk mencapai kesuksesan yang telah bapak raih sekarang,,,
mohon konfirnya ya pak.
wassallam...