/ Home /
Primitive Parcussion Tampilkan Musik Afrika

" Aksi Primitive Parcusion di Pekanbaru "
Senin, 8 Maret 2010 | 23:25 WIB
Laporan :

Laporan: Junaidi


Musik berlaku universal. Musik mampu melintasi batas ruang dan waktu. Hal itu dibuktikan oleh sekelompok mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Riau yang tergabung dalam komunitas Primitive Percussion.

Minggu (7/3) pagi di arena Car Free Day Jalan Diponegoro, enam anggota komunitas Primitive Percusion memainkan musik dan lagu asal Benua Afrika. Mereka tampil tanpa panggung dan memanfaatkan badan jalan di depan Hotel Aryaduta, yang memang bebas kendaraan pagi itu.

Tidak saja alat musik dan lagu yang dimainkan, penampilan para pemuda ini juga unik, sederhana dan terkesan lebih santai. "Kita tampil di mana saja, kadang di Jalan Gadah Mada, Jalan Diponegoro, di Purna MTQ, mal dan lainnya. Meski tanpa panggung, kami tetap enjoy sepanjang tidak mengganggu. Tujuannya kami hanya satu memberikan hiburan bagi masyarakat, termasuk saat car free day ini" ujar Ketua Komunitas Primitive Percussion, Wak Ghoz kepada Tribun, Minggu (7/3).

Menurut Wak Ghoz, di luar pertunjukkan resmi, Primitive Percussion main setiap hari libur di berbagai tempat. Selain untuk menghibur masyarakat, juga sebagai bentuk sosialisasi pentingnya menghargai budaya Indonesia.

Meski mengusung musik Afrika, hakikat pertunjukkan Primitive Percussion, kata Wak Ghoz adalah mengingat masyarakat agar mencintai budaya lokal. Sebab ritme musik Afrika banyak memiliki kesamaan dengan ritme-ritme musik Melayu.

Komunitas ini diisi oleh sekumpulan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Riau, di antaranya Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Akademi Kesenian Riau dan lainnya. Komunitas ini sudah ada sejak tahun 2006 lalu.

Terbentuknya komunitas ini berawal dari adanya kesamaan hobi sesama anggota pecinta musik Afrika. "Ini berawal dari kos-kosan, ketika itu ada beberapa teman dari berbagai universitas menyukai musik-musik Afrika yang memiliki banyak kesamaan ritme dengan musik Melayu. Kesamaan hobi bermusik itu membuat kita bergabung dan bermain sampai sekarang," ujar Wak Ghoz.

Charlos Hutabarat yang mendapat kepercayaan sebagai Manager Primitive Percussion, mengatakan komposisi personil juga menunjukkan ragam etnis dan budaya. Meski demikian, Primitive Percussion yang dibentuk sejak 20 September 2006 lalu, tetap eksis dan menujukkan kekompakkan. Ini artinya, ragam perbedaan bisa disatukan dan mampu menghasilkan hal-hal yang luar biasa.

Kehadiran Primitive Percussion juga sudah dikenal kalangan musisi lokal. Hal ini terlihat dari beberapa pertunjukkan yang diikuti, seperti UR Expo, Fisip Annugration, Pertamina Go to Campus, Teknik Expo dan pertunjukkan lainnya. Satu di antara daya tarik dan keunikan para grup musik ini ialah kesederhanaan anggotanya yang tampil apa adanya tanpa risih dan memiliki kemampuan dalam memainkan alat musik patut diacungi jempol.

"Ini mengingatkan kita, bahwa budaya sudah ada sejak dulu. Budaya-budaya sekarang terbentuk dan berasal dari dulu. Jadi, jangan diabaikan, jaga dan lestarikanlah budaya kita. Ini yang kita tunjukkan kepada para penonton, perpaduan masa dulu dengan masa kini yang serba modern. Semuanya lengkap di komunitas ini, ragam budaya, etnis, pendidikan dan lainnya," ujar Barat, panggilan akrab Charlos Hutabarat.

Primitive memiliki makna ialah kebebasan berekspresi, tradisononal tetapi modern. Primitive juga mengartikan sebuah seni dan budaya dari dulu yang terus berkembang sampai saat ini. "Primitive juga nama gang tempat markas kami, yakni Jalan Karya I Gang Primitive, tepat di belakang Fakultas Teknik UIR," kata Barat. (han)
 

KOMENTAR ANDA

komentar : Silahkan Isi Komentar anda dengan tidak menyinggung SARA
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code

 

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Surat Kabar
Majalah dan Tabloid
Penerbit
Media Elektronik
Industri dan Lain-lain
Hotel & Resort
© 2008 IT tribunpekanbaru.com (Dinoz). All rights reserved